Promosi Kesehatan mengenai Perilaku Pencegahan HIV/AIDS di kalangan Pekerja Seks Komersial (PSK)


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Salah satu populasi yang beresiko tinggi terinfeksi PMS dengan transmisi penularan
melalui hubungan seksual adalah Pekerja Seks Komersial (PSK). Epidemi HIV secara cepat
menyerang populasi PSK dengan prevalensi di atas 65% di hampir semua negara termasuk
Indonesia (Dewi, 2008).
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan Departemen Kesehatan (Depkes), kelompok
yang berisiko tinggi terkena penyakit menular seksual adalah Pekerja Seks Komersial (PSK),
pekerja panti pijat, narapidana dan homoseks (Suara Karya, 2008). Hasil penelitian yang
dilakukan Klinik Keluarga Berencana di Jawa Barat pada tahun 2005 pada 127 pekerja seks
komersial menunjukkan bahwa penderita gonorea sebanyak 28%, servisitis mukopurulenta
sebanyak 78%, vaginosis bakterial sebanyak 24%, kondiloma sebanyak 17%, herpes genitalis
sebanyak 5% (BKKBN, 2007). Faktor pendukung yang menjadikan tempat penderita HIV/AIDS terbesar di antaranya adalah banyaknya pekerja seks komersial, panti pijat, bar dan diskotik yang digunakan untuk tempat prostitusi (Bali Post, 2008).
Permasalahan tingginya kasus penyakit menular seksual salah satunya disebabkan oleh kurangnya informasi tentang penyakit menular seksual (BKKBN, 2007). Pendidikan kesehatan bertujuan untuk menambah kebiasaan hidup sehat agar dapat bertanggung jawab terhadap kesehatan diri sendiri serta lingkungannya serta ikut aktif didalam usaha-usaha kesehatan. Selain itu, pendidikan kesehatan bertujuan memberikan pengetahuan tentang prinsip dasar hidup sehat, menimbulkan sikap dan perilaku hidup sehat, dan membentuk kebiasaan hidup sehat (Fitriani, S, 2011).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Dewi (2008), dengan judul pengaruh
pendidikan kesehatan terhadap perubahan pengetahuan dan sikap dalam pencegahan PMS
pada pekerja seks komersial di Resosialisasi Semarang Tahun 2008, diketahui bahwa terdapat
perbedaan pengetahuan pada kelompok yang diberikan pendidikan kesehatan dengan kelompok yang tidak diberikan pendidikan kesehatan.



1.2  Tujuan Penulisan
1.            Apa pengertian Pengertian HIV/AIDS ?
2.            Bagaimana cara penyebaran Penyakit Menular Seksual (PMS) ?
3.            Bagaimana pengaruh Pengetahuan Pendidikan Kesehatan untuk Pekerja Seks Komersial (PSK) ?

1.3  Manfaat Penulisan
1.      Untuk Mengetahui Pengertian HIV/AIDS.
2.      Untuk Mengetahui cara penyebaran Penyakit Menular Seksual (PMS)
3.      Untuk Mengetahui Pengaruh Pendidikan Kesehatan untuk Pekerja Seks Komersial (PSK)



BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian HIV/AIDS

Acquired Immune Deficiency Syndrome, secara harfiah Acquired artinya didapat bukan keturunan. Immune artinya sistem kekebalan. Deficiency adalah kekurangan, dan Syndrome yakni kumpulan gejala penyakit. Sedangkan secara terminologi AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit yang menyerang dan atau merusak system kekebalan tubuh manusia melalui HIV (Human Immune Virus).

AIDS disebabkan salah satu kelompok virus yang disebuat dengan retroviruses yang sering disebut dengan HIV. Seseorang yang terkena atau terinfeksi HIV AIDS sistem kekebalan tubuhnya akan menurun drastic. Virus AIDS menyerang sel darah putih khusus yang disebut dengan T-lymphocytes. Tanda pertama penderita HIV biasanya akan mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh. Setelah kondisi membaik orang yang terinfeksi HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan secara perlahan kekebalan tubuhnya akan menurun karena serangan demam yang berulang.

AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome merupakan penyakit yang ditakuti oleh sejumlah kalangan masyarakat. Penyakit ini dapat mengakibatkan turunnya atau bahkan hilangnya sistem kekebalan pada tubuh manusia. Rusaknya sistem kekebalan tubuh pada manusia merupakan tahapan akhir dari infeksi virus HIV. Pada kondisi ini, penderita dikategorikan sudah tidak mampu lagi memberikan perlawanan terhadap infeksi ringan sekalipun sehingga pada akhirnya menyebabkan kematian. Hubungan seksual dengan penderita HIV/AIDS atau kebiasaan bergonta ganti pasangan dapat menjadi salah satu faktor penyebab untuk menularkan penyakit tersebut. Mather and Loncar menegaskan bahwa berdasarkan proyeksi parental dan riwayat penyakit infeksi menular seksual yang pernah di derita sebelumnya, perilaku seksual yang beresiko merupakan faktor utama yang berkaitan dengan penularan HIV/AIDS.

AIDS memilliki kepanjangan Acqired Immune Deficiency Syindrome. AIDS adalah sindroma atau kumpulan gejala menurunnya kekebalan tubuh yang di sebabkan oleh virus HIV. Sifilis, HIV/AIDS merupakan penyakit yang di sebabkan oleh infeksi organisme. Hal ini dalam penyebarannya, sangat dipengaruhi oleh pola perilaku dan gaya hidup seseorang. Secara tidak langsung sifilis, HIV dan AIDS juga merupakan penyakit perilaku. IMS ialah Infeksi Menular Seksual dan sering juga disebut penyakit kelamin. IMS infeksi menular seksual ialah infeksi yang di tularkan terutama melalui hubungan seks.



2.2 Penyebaran Penyakit Menular Seksual (PMS)
Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan (PMK Dinkes) Sulut mencatat, jumlah kasus HIV/AIDS pada tahun 2011 sebanyak 878 kasus. Manado merupakan kota dengan prevalensi tertinggi di Sulut dengan jumlah kasus HIV/AIDS yaitu 313 orang,yang terdiri dari 101 pasien HIV dan 212 pasien AIDS pada tahun 2011. Prevalensi HIV/AIDS menurut kelompok penularannya, sebesar 42,4% HIV/AIDS diderita oleh pengguna narkoba suntik (penasun), Waria 23,2%, Wanita Penjaja Seks (WPS) langsung 9,3%, WPS tidak langsung 3,1% dan lainlain 0,7%. Angka tersebut menunjukan bahwa salah satu kelompok resiko tinggi penyebar HIV/AIDS yang keberadaannya saat ini cukup mengkhawatirkan karena aktivitas yang melekat dalam keseharian mereka adalah kelompok waria.5,3. Dalam berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya, terdapat waria yang bekerja sebagai pekerja seks komersial dan ada juga waria yang bekerja dengan mengembangkan keahliannya dibidang salon, perancang busana, dan penata rias.

Komunitas waria termasuk kelompok resiko tinggi penyebar HIV/AIDS terutama waria yang bekerja sebagai PSK dengan berganti-ganti pasangan. Selain itu perilaku seks waria yang melakukan hubungan seks dengan penetrasi ke dalam anus (anal seks) serta melakukan aktivitas oral seks pada pasangannya merupakan perilaku berisiko karena kemungkinan terjadinya luka sehingga memudahkan terjadinya penularan HIV/AIDS. Rendahnya pengetahuan tentang penularan dan pencegahan, serta rentannya gaya hidup seksual waria terhadap HIV/AIDS mengakibatkan prevalensi IMS dan HIV/AIDS masih cukup tinggi dikalangan waria.

Melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang sebelumnya telah terjangkit Penyakit Menular Seksual ini jelas sangat berbahaya. Pengobatan untuk setiap jenis penyakit berbeda-beda, diantaranya tidak dapat disembuhkan. Untuk mengetahui lebihlanjut, dibawah ini akan dibahas beberapa beberapa Penyakit Menular Seksual. Seperti Gonorhoe, sifilis, HIV/AIDS. HIV ialah Human Immuno Deficienncy Virus. HIV merupakan sejenis parasit obligat yang dapat hidup di dalam cairan. HIV hidup dan berkembang dalam sel darah putih manusia, dimana cairan yang mengandung sel darah putih seperti: darah, cairan sperma, cairan vagina, sum-sum belakang dan lain sebagainya. Penyakit menular seperti HIV dan AIDS itu tidak ada cara penyembuhannya. Kadar-kadar virus HIV yang ada dalam tubuh seseorang hanya dapat diturunkan dengan ARV yaitu Anti Retrovirus. ARV Anti Retrovirus tidak dapat menyembuhkan seseorang, melainkan hanya mampu menurunkan kadar virus dalam darah; tetapi virus HIV tetap berda dalam darah. Obat ARV tidak dapat diberikan pada setiap penderita AIDS, hanya pada setiap penderita dengan kriteria tertentu yaitu seseorang yang menderita gejala AIDS pada saat tes darah (tes kadar daya tahan tubuh). Obat ARV ini dikomsumsi seumur hidup pada penderita berhenti karena hanya obat ini yang dapat mempertahankan hidup penderita AIDS.


2.3 Pengaruh Pengetahuan Pendidikan Kesehatan terhadap Pekerja Seks Komersial
Dalam sebuah  penelitian menjelaskan bahwa pendidikan kesehatan berpengaruh terhadap pengetahuan pekerja seks komersial mengenai penyakit menular seksual. Hal tersebut terlihat dari nilai mean pengetahun pada adalah 19,50 dan nilai mean pengetahuan post test adalah 24,11, sehingga rentang nilai mean pengetahuan pekerja seks komersial
sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan adalah 4,601 dengan standar
deviasi 2,563. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan perbedaan pengetahuan
pekerja seks komersial mengenai penyakit menular seksual sebelum dan sesudah di
berikan pendidikan kesehatan
.
WHO (1954), sebagaimana dikutip oleh Notoatmodjo S (2007), bahwa pemberian
pendidikan kesehatan adalah suatu upaya untuk menciptakan perilaku masyarakat yang
kondusif untuk kesehatan, artinya pendidikan kesehatan berupaya agar masyarakat
mengetahui atau menyadari bagaimana memelihara kesehatan mereka. Lebih dari itu
pendidikan kesehatan pada akhirnya bukan hanya sekedar meningkatkan pengetahuan
masyarakat, namun yang lebih penting adalah mencapai perilaku kesehatan (health
behaviour) yang didasari dengan pengetahuan yag baik dan tepat.
Fitriani (2011) menjelaskan bahwa pendidikan kesehatan dapat mempengaruhi
seseorang dalam memiliki pengetahuan tentang ilmu kesehatan, termasuk cara hidup sehat
dan teratur, sehingga mereka mengerti dan dapat menerapkan prinsip-prinsip pencegahan
penyakit dalam kaitannya dengan kesehatan dan keselamatan dalam kehidupan seharihari. Oleh sebab itu seseorang yang telah mendapatkan informasi atau pengetahuan
melalui pemberian pendidikan kesehatan dapat juga memiliki nilai dan sikap yang positif
terhadap prinsip hidup sehat, serta memiliki keterampilan dalam melaksanakan hal yang
berkaitan dengan pemeliharaan, pertolongan, dan perawatan kesehatan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa perilaku pencegahan IMS, HIV, dan AIDS pada WPSL masih sangat kurang, kurang partisipasi pelanggan yang mau menggunakan kondom dan posisi tawar yang rendah juga menjadi kendala tersendiri bagi WPSL untuk menggunakan kondom saat melakukan transaksi seksual. Widodo (2009) menunjukan bahwa persepsi WPS terhadap tindakan pencegahan IMS dan kemampuan diri
yang masih sangat rendah, sebagian bersar informan kesulitan untuk mengajak pelanggan selalu menggunakan kondom.
Pemahaman yang kurang benar terhadap penularan IMS, HIV, dan AIDS akan berdampak pada perilaku pencegahan IMS, HIV, dan AIDS. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa sebagian besar informan tidak mengetahui tentang penyakit IMS, HIV, dan AIDS, bahkan mereka menganggap jika pekerjaan yang mereka lakukan tidak berisiko terhadap penyakit. Hal ini senada dengan yang disampaikan (Budiono, dkk, 2012) bahwa rendahnya penggunaan kondom dikalangan WPS dipengaruhi oleh pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, IMS dan HIV, sikap WPS, sikap pelanggan, akses informasi dan dukungan mucikari. Selain menggunakan kondom, perilaku pencegahan lain yang dilakukan oleh para WPSL adalah mengonsumsi antibiotik supertetra.

Selain itu, tidak sedikit WPS mengantisipasi IMS dari pekerjaannya tersebut dengan cara tradisional, yaitu dengan cebok air rebusan daun sirih, menurutnya dapat mengilangkan atau menurunkan resiko IMS, dan tidak banyak juga menggunakan antiseptik yang diperjualkan di toko. Kebiasaan menggunakan antiseptik yang tidak aman akan meningkatkan resiko kejadian IMS dan penggunaan antibiotic yang terus-menerus justru akan menyebabkan resistensi. Selain itu, pengaruh dari lingkungan juga membuat mereka meyakini tindakan yang mereka lakukan sebagai upaya pencegahan penyakit.

Perilaku kesehatan individu adalah sikap dan kebiasaan individu yang terkait erat dengan lingkungan dan niat seseorang untuk bertindak atau berperilaku sangat dipengaruhi oleh dukungan sosial masyarakat sekitar. Salah satu bentuk dukungan adalah dukungan individu sadar kesehatan yang dapat meningkatkan pemakaian penggunaan kondom dikalangan WPS. Dukungan WPS serta teman pelanggan juga dapat meningkatkan penggunaan kondom oleh pelanggan WPS. Selain itu, diperlukan dukungan berbagai sektor terkait seperti Dinas Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) sehingga diharapkan perilaku pencegahan IMS, HIV, dan AIDS pada kelompok risiko tinggi seperti WPS dapat terealisasi dengan baik, dan pada akhirnya akan mencegah laju peningkatan kasus baru IMS, HIV, dan AIDS.

2.4 Peran Petugas Kesehatan dalam Promotor Kesehatan

      Sebagai petugas kesehatan yang sepatutnya ditugaskan atau mengupayakan menjadi penegak kesehatan dilingkungan maupun dalam bermasyarakat. Sama halnya dalam peran petugas kesehatan sebagai Promotor dalam aspek kesehatan. Bicara mengenai promosi kesehatan untuk Pekerja Seks Komersial (PSK) atau Wanita Pekerja Seks (WPS) ini perlu kita cermati bahwa mereka bekerja seperti itu juga untuk kelangsungan hidupnya, tidak sedikit dari mereka juga berpenghasilan cukup padahal kebutuhan finansialnya pun juga tidak sedikit. Hal ini juga dapat kita mengambil kesimpulan, untuk mencukupi kelangsungan hidupnya saja susah bagaimana dengan menjaga kesehatannya. Untuk peran Promotor sendiri, kita mengedukasi mereka bahwa menjaga kesehatan tidak semahal yang mereka pikirkan, cukup dengan menggunakan pengaman atau kondom jika sedang melakukan transaksi seksual, dan tidak menggunakan narkoba, dan memberikan contoh konkrit pengalaman yang dialami penderita HIV/AIDS yang juga sama pekerjaanya yaitu PSK atau WPS.



BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan

Perilaku pencegahan penyakir menular seksual (IMS, HIV, dan AIDS pada WPSL) masih rendah. Penggunaan kondom saat bertransaksi seksual masih didasarkanpada kesepakatan dengan pelanggan. Namun, kebanyakan dari mereka enggan menggunakan kondom dengan alasan tertentu. Selain menggunakan kondom pencegahan yang dilakukan adalah dengan menggunakan jelli, mengonsumsi antibiotik setiap hari, maupun mencuci alat kemaluan dengan daun sirih. Hampir semua WPS tidak mengetahui tentang IMS, HIV, dan AIDS. Hanya beberapa dari merekayang paham kemudian dapat menyebutkan jenis dan sebagian kecil gejala dari IMS, HIV, dan AIDS, untuk penyakit HIV, dan AIDS mereka menyebutkan dengan nama penyakit virus.

Sikap PSK dalam menanggapi penyakit kelamin cukup beraneka ragam, dimulai dari pengetahuan para PSK itu sendiri, umur dan tingkat pendidikan, ada upaya pro aktif dari PSK, ada juga yang sengaja membiarkan agar orang lain juga sama-sama tertular.Hubungan pengetahuan PSK mengenai penyakit kelamin lebih diaplikasikan oleh para PSK dengan memilih para pelanggan, walaupun tidak semua PSK dapat memilih-milih pelanggannya, tergantung kepada orientasi PSK itu sendiri yaitu uang atau kepuasan. 

3.2 Saran

      Menanggapi perihal seperti ini perlu juga dukungan dari pemerintah dan lembaga kesehatan setempat untuk mengedukasikan atau memberi perhatian khusus terhadap mereka dan pekerjaan mereka, dan perlunya kesadaran diri sendiri jika ingin sehat perlunya mengantisipasi dahulu sebelum terkena. Karena lebih baik berwaspada dari pada mengobati.


DAFTAR PUSTAKA

Laila Awad, Christofel Elim, Anita E. Dundu, Neni Ekawardani, 2015, PerbedaanTingkat Pengetahuan dan Sikap Tentang Hiv/Aids pada Waria Pekerja Seks Komersial dan Waria Non-Pekerja Seks Komersial di Kota Manado, Jurnal e-clinic, Vol. 3, No. 1, 2015
Dadang Darmawan, SKM, M.Kes, Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Pengetahuan PekerjaSeks Komersial Tentang Penyakit Menular Seksualdi Desa Cikamuning Kecamatan PadalarangKabupaten Bandung Barat, Jurnal Kesehatan Kartika, Vol. 8, No. 1, 2013
Dewi Purnawati, 2013Perilaku Pencegahan Penyakit Menular Seksual di Kalangan Wanita Pekerja Seksual Langsung

Philep Morse Regar, Josef Kurniawan Kairupan, 2016, “Pengetahuan Pekerja Seks Komersial (PSK) Dalam Mencegah Penyakit Kelamin di Kota Manado”, Jurnal Holistik, Vol. IX, No. 17, 2016

Komentar